Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Jendela Kebhinekaan di Senja Jakarta (1950)

Gambar
Jakarta, tahun 1950. Indonesia beberapa tahun berdiri, namun tantangan persatuan justru semakin berat. Di teras sebuah kantor berita, Dian (seorang jurnalis muda dari Sunda) sedang berdiskusi panas dengan Gusman (seorang diplomat senior dari Aceh). "Gusman, konflik di beberapa daerah mengkhawatirkan. Mereka mempertanyakan, mengapa harus bersatu di bawah Jakarta? Adat, hukum, dan bahkan makanan kita jauh berbeda. Apa arti Indonesia ini, jika tiap daerah ingin berjalan sendiri?" tanya Dian, raut wajahnya tegang. Gusman, yang dikenal sebagai negosiator ulung, menyesap kopi dengan tenang. "Dian, bayangkan sebuah orkestra. Apakah semua instrumen harus berbunyi sama? Haruskah biola meniru gendang? Tidak. Makna Indonesia terletak pada harmoni perbedaan itu. Keunikan adatmu, Reog di Jawa Timur, atau Tari Saman di Aceh, itu semua adalah not-not yang kita mainkan bersama." Tiba-tiba, terdengar suara ceria Martha (seorang perawat dari Flores) yang baru saja selesai bertugas. ...