Jendela Kebhinekaan di Senja Jakarta (1950)
Jakarta, tahun 1950. Indonesia beberapa tahun berdiri, namun tantangan persatuan justru semakin berat. Di teras sebuah kantor berita, Dian (seorang jurnalis muda dari Sunda) sedang berdiskusi panas dengan Gusman (seorang diplomat senior dari Aceh).
"Gusman, konflik di beberapa daerah mengkhawatirkan. Mereka mempertanyakan, mengapa harus bersatu di bawah Jakarta? Adat, hukum, dan bahkan makanan kita jauh berbeda. Apa arti Indonesia ini, jika tiap daerah ingin berjalan sendiri?" tanya Dian, raut wajahnya tegang.
Gusman, yang dikenal sebagai negosiator ulung, menyesap kopi dengan tenang. "Dian, bayangkan sebuah orkestra. Apakah semua instrumen harus berbunyi sama? Haruskah biola meniru gendang? Tidak. Makna Indonesia terletak pada harmoni perbedaan itu. Keunikan adatmu, Reog di Jawa Timur, atau Tari Saman di Aceh, itu semua adalah not-not yang kita mainkan bersama."
Tiba-tiba, terdengar suara ceria Martha (seorang perawat dari Flores) yang baru saja selesai bertugas. "Kalian bicara soal perpecahan? Di rumah sakit, kami merawat pasien dari Bugis, Batak, Tionghoa, dan Timor. Darah yang kami transfusikan sama-sama merah. Di situ letak arti persatuan bagi saya: kita semua manusia Indonesia yang saling membutuhkan."
Dian merenung. "Jadi, persatuan kita bukan soal keseragaman, tapi soal kebutuhan dan kesalingan?"
"Tepat," ujar Gusman. "Dulu, para pendiri bangsa—Soekarno dari Jawa, Hatta dari Sumatera Barat, Yamin dari Sumatera, hingga Pahlawan kita Frans Kaisiepo dari Papua—mereka semua mewakili keberagaman. Mereka tidak melebur identitas mereka; mereka menawarkannya. Maknanya adalah: identitas lokal kita adalah bahan baku, dan Indonesia adalah mahakarya yang kita ukir bersama."
Martha tersenyum. "Pusaka terhebat bangsa ini bukan tambang emas atau rempah, melainkan semboyan itu, Bhinneka Tunggal Ika. Itu adalah janji kita untuk saling menjaga dan merawat perbedaan. Jadi, tugas kita sekarang adalah menjadi jembatan yang menghubungkan semua perbedaan itu."
Dian mengangguk mantap. Ia menyadari, persatuan bukanlah akhir dari sejarah, melainkan perjuangan harian yang harus terus dirawat di atas fondasi keragaman yang sudah ada.

Komentar
Posting Komentar